Nepenthes

Kerajaan : Plantae, Divisi : Magnoliophyta, Kelas : Magnoliopsida, Ordo : Caryophyllales, Famili : Nephenthaceae, Genus : Nephenthes.

Kantong semar atau dalam nama latinnya Nepenthes sp. pertama kali dikenalkan oleh J.P Breyne pada tahun 1689. Nepenthes sp. merupakan tanaman unik dari hutan yang belakangan menjadi trend sebagai tanaman khas komersil di Indonesia. Karena bentuknya yang unik, sehingga tanaman ini mulai diperjualbelikan oleh masyarakat.

Sampai dengan saat ini tercatat terdapat 103 jenis kantong semar yang sudah dipublikasikan. Tumbuhan ini diklasifikasikan sebagai tumbuhan karnivora karena memangsa serangga. Kemampuannya itu disebabkan oleh adanya organ berbentuk kantong yang menjulur dari ujung daunnya. Organ itu disebut pitcher atau kantong. Kemampuannya yang unik dan asalnya yang dari negara tropis itu menjadikan kantong semar sebagai tanaman hias pilihan yang eksotis di Jepang, Eropa, Amerika dan Australia. Sayangnya, di negaranya sendiri justru tak banyak yang mengenal dan memanfaatkannya. Selain kemampuannya dalam menjebak serangga, keunikan lain dari tanaman  ini adalah bentuk, ukuran, dan corak warna kantongnya. Secara keseluruhan, tumbuhan ini memiliki lima bentuk kantong, yaitu bentuk tempayan, bulat telur (oval), silinder, corong, dan pinggang.

Kantong semar tumbuh dan tersebar mulai dari Australia bagian utara, Asia Tenggara, hingga Cina bagian Selatan. Indonesia sendiri memiliki Pulau Kalimantan dan Sumatera sebagai surga habitat tanaman ini. Dari 64 jenis yang hidup di Indonesia, 32 jenis diketahui terdapat di Borneo sebagai pusat penyebaran kantong semar. Pulau Sumatera menempati urutan kedua dengan 29 jenis yang sudah berhasil diidentifikasi. Keragaman jenis kantong semar di pulau lainnya belum diketahui secara pasti. Namun berdasarkan hasil penelusuran spesimen herbarium di Herbarium Bogoriense, Bogor, ditemukan bahwa di Sulawesi minimum sepuluh jenis, Papua sembilan jenis, Maluku empat jenis, dan Jawa dua jenis.

Kantong semar hidup di tempat-tempat terbuka atau agak terlindung di habitat yang miskin unsur hara dan memiliki kelembaban udara yang cukup tinggi. Tanaman ini bisa hidup di hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, dan padang savana. Berdasarkan ketinggian tempat tumbuhnya, kantong semar dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kantong semar dataran rendah, menengah, dan dataran tinggi. Karakter dan sifat kantong semar berbeda pada tiap habitat. Beberapa jenis kantong semar yang hidup di habitat hutan hujan tropik dataran rendah dan hutan pegunungan bersifat epifit, yaitu menempel pada batang atau cabang pohon lain. Pada habitat yang cukup ekstrim seperti di hutan kerangas yang suhunya bisa mencapai 30ยบ C pada siang hari, kantong semar beradaptasi dengan daun yang tebal untuk menekan penguapan air dari daun. Sementara kantong semar di daerah savana umumnya hidup terestrial, tumbuh tegak dan memiliki panjang batang kurang dari 2 m.

Status tanaman kantong semar termasuk tanaman yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Hal ini sejalan dengan regulasi Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), dari 103 spesies kantong semar di dunia yang sudah dipublikasikan, 2 jenis: N. rajah dan N. khasiana masuk dalam kategori Appendix I. Sisanya berada dalam kategori Appendix II. Itu berarti segala bentuk kegiatan perdagangan sangat dibatasi.

Javan Hawk

Kingdom: Animalia, Phylum: Chordata, Class: Aves, Order: Falconiformes, Family: Accipitridae, Genus: Nisaetus, Species: N. bartelsi


The Javan Hawk-eagle, Nisaetus bartelsi (earlier under Spizaetus) is a medium-sized, approximately 61 cm long, dark brown raptor in the family Accipitridae. It has a long crest, rufous head and neck, and heavily barred black below. The crest is black with white tip. Both sexes are similar. The young is duller and has unmarked underparts.


An Indonesian endemic, the Javan Hawk-eagle is distributed in humid tropical forests of Java. Because of the plumages variability of Spizaetus eagle, the Javan Hawk-eagle was not recognised as a full species until 1953.


One of the rarest of all raptors, the Javan Hawk-eagle is believed to be a monogamous species. The female usually lays one egg in nest high on top of forest trees. The diet consists mainly of birds, lizards, fruit bats and mammals.


The Javan Hawk-eagle is the national bird of Indonesia, where it is commonly referred to as Garuda, from the mythical bird-like creatures in Hindu and Buddhist beliefs. The scientific name commemorates Hans Bartels.


Due to ongoing habitat loss, small population size, limited range and hunting in some areas, the Javan Hawk-eagle is evaluated as Endangered on the IUCN Red List of Threatened Species. It is listed on Appendix II of CITES.